The forgotten culture

 Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.

Budaya adalah cara hidup yang berkembang atau dimiliki oleh sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. (Arnold, Matthew. 1869. Culture and Anarchy. New York: Macmillan. Third edition, 1882, available online. Retrieved: 2006-06-28)

Penulis hanya akan fokus terhadap budaya yang berkembang dan mungkin dilupakan oleh sebagian warga Indonesia pada umumnya dan Jogja khususnya saja,bukan budaya secara global dan universal. Warga Jogja dewasa ini seakan sudah mengabaikan budaya Jawa yang seharusnya dijaga dan dilestarikan sebagai salah satu kekayaan bangsa ini. Penulis prihatin melihat lifestyle masyarakat yang semakin hari semakin tergerus ketimurannya mengikuti perkembangan kekinian dan westernisasi yang seakan terus mengkristal dalam pola perilaku terutama generasi muda.

Bahasa adalah salah satu produk budaya yang merupakan sarana penyalur, alat komunikasi bagi masyarakat untuk berinteraksi. Dewasa ini seolah tabu untuk berbahasa Jawa dengan kawan dari luar kota, bahasa gaul dan perpaduan bahasa yang (menurut penulis) berlebihan justru menjadi pilihan untuk berkomunikasi sehari-hari. Bukan saja rancu, munculnya beragam bahasa Gaul ini tidak memberikan contoh yang positif bagi anak-anak yang nantinya akan menjadi penerus bangsa ini.

Tarian mungkin akan menjadi lingkup lebih khusus yang ingin dibahas penulis. Tarian merupakan ekspresi, bentuk kebudayaan yang memiliki keunikan dan kekhasan berbeda di tiap daerah. Jogja sebagai kota budaya jelas memiliki ribuan tari klasik tradisi yang benar-benar diciptakan oleh kerabat maupun anggota Kerajaan (Keraton Ngayogyakarto dan Kadipaten Pakualaman) maupun telah tersentuh tangan-tangan seniman kita sehingga menjadi tari Jawa kreasi baru.

Tanya kenapa, Salsa, gang nam style, harlem shake menjadi lebih populer di era ini. Mungkin  karena dianggap break through, ungkapan ekspresi kaum minoritas yang courage dan cukup menjadi contoh kebebasan berekspresi yang tanpa batas. Pernahkah berpikir tentang nilai di balik beragam jenis kesenian yang digandrungi ribuan orang Indonesia.

Inilah gambaran tentang beberapa gadis Jogja yang dinamis, memiliki kehidupan kekinian dengan gaya hidup modern namun tetap mencintai budaya lokal, melestarikan dan menjaganya dengan cara klasik. Melestarikan tari klasik Jawa.

Next, penulis akan menyuguhkan sejarah, cerita di balik eksistensi suatu tarian dalam beberapa chapter. Hari ini manjakan mata anda dengan keindahan nan keelokan penari dalam balutan lengkap Tari Srimpi Gambir Sawit. 

dari kiri ke kanan :

Mery (Penulis), Puput,Rani, Dyah.Image

Tentang Elizabeth Mery Christian

follow me @gorgeousmery/ @eLsboutique www.facebook.com/ElsBoutique ig : gorgeousmery Line id : amazingmery
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke The forgotten culture

  1. farizalfa berkata:

    Mari kita lestarikan budaya kita yang telah mulai hilang..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s